Perjalanan Kabid Humas ke Timor Leste

Author: gusbar  |  Category: Berita

Perjalanan Kabid Humas ke Timor Leste

Catatan Perjalanan Satyo Utomo, Kabid Humas SPJICT ke Timor Leste

“Tyo! Kamu harus berangkat ke Timor Leste…” instruksi dari orang nomor satu di serikat pekerja PT. JICT Bung Hazris Malsyah siang itu terasa menyentak hati. Betapa tidak, pergi ke Timor Leste, sebuah negara baru yang dulu bernama Timor Timur itu tentu cukup menakutkan pada awalnya. Apalagi kerusuhan dan unstabilitas ekonomi serta politik belum pulih benar di negara tersebut. Seribu kekhawatiran pun berkecamuk. Bagaimana jika mereka tahu yang datang adalah orang Indonesia? Bagaimana jika saat berada di sana kerusuhan kembali pecah?

Tak urung, berbagai pertanyaan menggelayuti pikiran dan sangat mengganggu. Apalagi mengingat saat itu adalah hari terakhir sebelum saya dan rombongan serikat pekerja berencana melakukan study banding ke Northport Portkelang, Malaysia dan PSA Singapura. Alhasil, tugas yang mendadak ini tentu saja cukup menguras mental saya.

Sebagai sebuah tugas, tentu tak ada alasan bagi saya menolaknya. Apalagi tugas itu didelegasikan ITF (International Transport Worker Union) kepada SPJICT untuk memberi pelatihan dan seminar tentang Safety Port atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja di pelabuhan. Sesuai perintah, saya pun melaksanakan tugas tersebut dan berangkat ke Timor Leste.

Dalam tempo kurang dari 4 hari, saya mempersiapkan materi safety untuk 3 jam presentasi yang saya bawakan nanti. Beberapa teman mulai sibuk mengusik, ada yang memberi semangat dan tidak sedikit yang menggoda.

“Kamu harus bangga. Ini adalah kesempatan emas bagi serikat pekerja dua negara” kata seorang teman.

” Jangan khawatir, nanti pinjam saja rompi anti peluru tentara UN ” goda yang lain.

Yang justru membuat kalut adalah sikap isteri saya yang menangis mengkhawatirkan kondisi keselamatan saya di sana. Ini memang wajar mengingat siaran TV tanggal 22 Juli 2007 itu menyiarkan kerusuhan yang kembali pecah di kota Dili, Timor Leste.

Praktis, saat berada di Nothport Portkelang, Malaysia, pikiran dan tenaga saya tercurah pada persiapan materi yang hendak saya bawakan di Dili. Ini membuat cahaya Twin Tower Petronas tidak bisa saya nikmati dengan sepenuh hati ketika berada di tempat itu.

Tanggal 25 Juli 2007, saya berpisah dengan rekan-rekan yang berencana melanjutkan perjalanan ke Singapura. Sementara saya terbang dengan maskapai Malaysia Airlines menuju pulau Dewata, Bali. Untuk kemudian keesokan harinya saya berangkat ke Dili dengan pesawat Merpati Nusantara Airlines. Memang penerbangan dari dan ke Timor Leste hanya bisa melalui satu pintu yakni melalui bandara Ngurah Rai, Bali.

Di Bali saya bertemu dengan Mark Davis, seorang ITF Development Programme yang berasal dari New Zealand. Beliau memberi arahan dan bekal sehubungan dengan rencana saya memberikan presentasi di Timor leste.

Waktu menunjukan pukul 13.00 WIT saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Dili, sesaat kaki saya menjejakkan tanah yang tampak di landasan parkir adalah beberapa helikopter jenis Blackhawk milik tentara Australia serta sebuah pesawat yang juga milik Australia serta dijaga beberapa tentara dengan senjata lengkap dan mengenakan rompi anti peluru pula. Tak terasa peluh mulai turun membasahi kening, apalagi matahari bersinar terik. Ah, Dili memang kota yang sangat gersang serta kering.

Selesai menyelesaikan administrasi saya beranjak keluar bandara. Di halaman depan bandara saya bertemu dengan beberapa orang yang ternyata para petinggi KSTL atau federasi serikat pekerja Timor Leste. Selanjutnya setelah berbasa-basi sejenak, saya mendapat kalungan selendang atau biasa disebut Teis yang becorak bendera Timor Leste serta mendapat tarian selamat datang. “Wah, seperti tamu negara aja,” banggaku dalam hati.

Untuk lebih mengakrabkan suasana, mereka yang menjemput kupanggil kupanggil dengan sebutan “Brother….” Panggilan khas sesama serikat pekerja dunia. Brother Ziko, Paulino da Costa dan Rigo Monteiro.

Dari bandara sampai hotel, saya naik mobil milik UN (United of Nation) dengan kawalan beberapa tentara UN. Setibanya di hotel, keamanan saya diserahterimakan ke Tentara Falintil/Fretilin Timor Leste.

Hari pertama tiba di Dili, kegiatan saya hanya makan dan jalan-jalan di seputar kota Dili serta mengunjungi kantor pusat KSTL. Tetapi saat bertemu panitia pelatihan dan seminar saya sangat terkejut, ternyata saya adalah pembicara tunggal dalam seminar tersebut alias tidak ada lagi yang jadi pembicara. Jujur saja, ini membuat saya cukup panik. Apalagi materi presentasi yang saya siapkan hanya untuk 3 jam saja. Sehingga malamnya saya harus lembur sampai jam 3 pagi membuat beberapa meteri tambahan untuk 2 hari penuh. Untungnya saya membawa laptop milik union JICT, yang di dalamnya terdapat banyak modul pelatihan dan presentasi.

Tanggal 27 Juli 2007, saya mulai memberikan presentasi dan pelatihan tentang K3 dan keselamatan pada umumnya. Para peserta yang berjumlah 20 orang, umumnya terdiri dari orang tua yang usianya 10 tahun di atas saya. Mereka mayoritas bekerja sebagai tenaga kerja bongkar muat yang berada di bawah UMTTL atau Serikat Pekerja Maritim Timor Leste. Dalam memberikan materi saya menggunakan Bahasa Indonesia, karena memang saya tidak memahami bahasa Portugal dan Tetum atau bahasa lokal yang saat ini digunakan rakyat Timor Leste.
Pada hari pertama memberi seminar saya mendapati rendahnya kesadaran dan pengetahuan mereka akan K3 dan budaya keselamatan. Hal ini sangat dimaklumi mengingat tuntutan hidup mengharuskan mereka bekerja guna mendapat uang untuk makan. Sehingga kaidah keselamatan tidak mereka pedulikan. Dan ini merupakan tantangan yang luar biasa bagi saya untuk menggugah cara pandang mereka tentang pentingnya K3.

Seminar hari pertama berakhir pukul 18.30 WIT, selanjutnya acara hari itu digunakan oleh panitia untuk mengajak saya menikmati suasana malam kota Dili di malam hari sambil makan malam di sebuah rumah makan eks gedung BCA Dili sebelum referendum. Suasana kota Dili di atas jam 6 sore bak kota mati. Yang terlihat hanya patroli tentara UN dan polisi yang tampak lalu lalang. Angkutan umum pun berhenti beroperasi menjelang magrib, sepertinya roda ekonomi dan sosial masyarakat Timor Leste belum pulih benar.

Keesokan harinya (28 Juli 2007), hari kedua seminar saya gunakan untuk membuat kampanye “Safety Work” bagi peserta, tujuannya agar peserta nanti dapat menjadi juru kampanye safety di Timor Leste. Para panitia tampaknya puas dengan program dadakan yang saya buat, apalagi diakhir seminar para peserta dengan kesadarannya sendiri mengikrarkan diri dengan 4 komitmen bersama, yakni :
1.Para pekerja di pelabuhan Dili akan menolak pekerjaan
yang berbahaya dan tidak memenuhi kaidah keselamatan
kerja.
2.Para pekerja akan mengenakan alat keselamatan kerja tanpa
pengecualian
3.Mengutamakan keselamatan dalam setiap pekerjaan
4.Meningkatkan solidaritas serikat pekerja

Selanjutnya saya bersama peserta membuat program kampanye K3 bagi pekerja di pelabuhan Dili serta program evaluasinya.

Seminar berakhir pukul 16.00 WIT, diakhiri dengan penyampaian kesan dan pesan baik dari peserta maupun panitia. Secara umum seluruh peserta menyatakan puas dan menginginkan program lanjutan. Yang membuat saya terharu, mereka meminta saya kembali ke Timor Leste untuk membawakan materi lanjutan. Tidak hanya itu, beberapa peserta yang sudah cukup lanjut usia sempat menangis mengingat kami akan segera berpisah. Seorang di antaranya menyatakan kehadiran dan pendekatan yang saya lakukan merubah kondisi hatinya yang sebelumnya anti Indonesia. Sungguh terharu saya mendengar penuturan mereka.

Kepada peserta saya berpesan untuk menjaga kekompakan dan solidaritas dengan serikat pekerja dan menjunjung tinggi keselamatan kerja. Selepas seminar, saya kembali dibawa panitia ke daerah perbukitan disekitar kota Dili, bahkan saya sempat mengunjungi rumah presiden of Timor Leste, Bapak Ramos Horta. Sayangnya yang bersangkutan sedang melaksanakan kunjungan dinas ke Australia. Suasana dan pemandangan kota Dili dilihat dari atas perbukitan sangatlah indah tak kalah dengan pemandangan Puncak. Mungkin bedanya udara Timor Leste sangat panas dan kering.
Pada malam harinya dilajutkan dengan jamuan besar dengan segenap panitia dan petinggi KSTL dan UMTTL. Pesta barbeque ditemani wine Perancis dan Portugal sangat menggugah selera. Apalagi pesta dilakukan di restoran terbaik pinggir pantai. Suasana persaudaraan sebagai sesama serikat pekerja dunia membuat kami larut dalam kegembiraan, menghilangkan perbedaan yang ada di antara kami.

Tanggal 29 Juni 2007, jam masih menunjukan pukul 7 saat saya dijemput untuk persiapan kembali ke Bali. Pesawat memang berangkat jam 12 Siang, namun para sahabat Timor Leste saya mengajak saya kembali jalan-jalan ke wilayah pantai di sisi lain kota Dili. Ternyata saya sangat takjub, pemandangan indah dangan pasir putih dihadapkan dengan hamparan air laut berwarna hijau muda dan biru tua. Jauh lebih indah dari Kuta dan Sanur di Bali serta jauh lebih asri, sunyi, tidak ada wisatawan. Sungguh tempat yang nyaman dan saya menyesal tidak menambah hari saya untuk stay di Dili.

Siang harinya saya sudah cek in di Bandara eks Comoro Dili, ternyata pesawat saya delay selama 8 jam. Akibatnya saya tertahan di bandara yang masih rusak, ada beberapa lubang bekas peluru, AC yang tidak dingin sampai tidak ada air sama sekali di toiletnya membuat saya tersiksa sekali. Namun kenangan beberapa hari di Dili adalah kenangan yang tak terlupakan dalam hidup.
Berbekal semangat persahabatan saya meninggalkan Timor Leste, namun saya berjanji suatu ketika saya akan kembali untuk menikmati indahnya pantai Dili, panorama perbukitannya, dan yang pasti mengunjungi sahabat serikat pekerja di sana. Adios Amigos***

Leave a Reply